<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DesignMagz &#187; Grafis</title>
	<atom:link href="http://www.designmagz.com/category/grafis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.designmagz.com</link>
	<description>Design Resources, Share, Tips and Trick, Jobs</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Oct 2009 10:20:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Alpha Transparency</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/alpha-transparency.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/alpha-transparency.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Aug 2006 03:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/alpha-transparency.html</guid>
		<description><![CDATA[Alpha Transparency adalah sebuah fasilitas yang dimiliki oleh Portable Network Graphics atau disingkat PNG yang memungkinan sebuah image memiliki tingkat kenampakan terhadap objek-objek yang berada di belakang image tersebut. Untuk gambar yang dipergunakan di dalam dunia Web hanya PNG yang memiliki fasilitas Alpha Transparency.
GIF memang telah kita kenal dapat memproduksi gambar dengan transparansi untuk latar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alpha Transparency adalah sebuah fasilitas yang dimiliki oleh <strong><a target="_blank" title="Portable Network Graphic" href="http://www.libpng.org/pub/png/">Portable Network Graphics</a></strong> atau disingkat <strong>PNG</strong> yang memungkinan sebuah image memiliki tingkat kenampakan terhadap objek-objek yang berada di belakang image tersebut. Untuk gambar yang dipergunakan di dalam dunia Web hanya PNG yang memiliki <a title="Spesifikasi PNG" href="http://www.w3.org/TR/PNG/">fasilitas Alpha Transparency</a>.<span id="more-120"></span></p>
<p><a title="GIF" target="_blank" href="http://www.gif.com/">GIF</a> memang telah kita kenal dapat memproduksi gambar dengan transparansi untuk latar, hanya saja, transparansi GIF ini memiliki kekurangan yaitu tidak dapat menampilkan dengan sempurna transparansi gambar yang memiliki Anti Aliasing, serta <a title="About GIF" href="http://en.wikipedia.org/wiki/GIF">dukungan GIF</a> akan warna yang hanya 256 warna.</p>
<p>Perhatikan perbandingan Transparansi antara GIF dengan PNG pada gambar di bawah :</p>
<div style="text-align: center"><img title="Alpha Transparency GIF dan PNG" alt="Alpha Transparency GIF dan PNG" src="http://designworld.master.web.id/wp-content/uploads/2006/08/alpha1.jpg" /></div>
<p>Gambar diatas diberikan efek bayangan atau shadow hingga pada bayangan menampilkan gambar yang tembus pandang atau transparan, GIF tidak dapat menampilkan bayangan ini secara transparan, akibatnya pada bagian transparan tersebut ditampilkan warna matte dengan warna default putih.</p>
<div style="text-align: center"><img title="Export PNG" alt="Export PNG" src="http://designworld.master.web.id/wp-content/uploads/2006/08/export.gif" /></div>
<p>Secara langsung maupun tidak langsung, penggunaan Alpha Transparency PNG dipopulerkan oleh kalangan pengembang aplikasi opensource, sebagaimana PNG. Beberapa browser seperti <a target="_blank" title="Mozilla" href="http://mozilla.org">Mozilla</a>, <a target="_blank" href="http://www.opera.com">Opera</a>, dan browser lainnya telah dengan baik mendukung Alpha Transparency, terkecuali IE yang baru dapat menampilkan Alpha Transparency dengan baik pada IE 7. Alpha Transparency juga secara masif dipergunakan dalam aplikasi grafis untuk linux seperti <a target="_blank" title="KDE" href="http://www.kde.org">KDE</a>, untuk pembuatan Icon, maupun user interface.</p>
<p>Alpha Transparency dari PNG dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah penggunaan gambar transparan untuk keperluan animasi pada Macromedia Flash. Saya pribadi, sering menggunakan Alpha Transparency untuk pembuatan user interface untuk beberapa aplikasi web-based maupun skin browser yang diperuntukan bagi browser Mozilla.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/alpha-transparency.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antialiasing</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/antialiasing.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/antialiasing.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jun 2006 11:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/antialiasing.html</guid>
		<description><![CDATA[Tentunya Anda pernah mendengar kata atau istilah              Antialiasing bukan?, Opsi ini biasanya terdapat pada program editor              gambar seperti Photoshop, Fireworks, The GIMP2, dan lain-lain.      [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tentunya Anda pernah mendengar kata atau istilah              Antialiasing bukan?, Opsi ini biasanya terdapat pada program editor              gambar seperti Photoshop, Fireworks, The GIMP2, dan lain-lain.              Antialiasing? dipergunakan untuk memberikan efek halus pada              sisi-sisi objek atau teks yang kita buat agar kesan &#8220;bergerigi&#8221;              karena pixel yang menyusun kotak-kotak tersebut. <span id="more-87"></span></p>
<p class="textbody">Bila kita membuat sebuah objek dengan              anti-aliasing yang tidak diaktifkan, maka tampilan dari sisi objek              akan seperti:</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="259" height="280" border="0" src="http://designworld.master.web.id/gambar/63-1.jpg" /></p>
<p align="left" class="textbody">Hal ini akan mengakibatkan tampilan              dari objek tampak tidak rata. Dengan Anti-aliasing, maka tampilan              dari objek akan ditambahkan warna yang membuat matakita menangkap              gradasi dari objek ke latar.</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="258" height="277" border="0" src="http://designworld.master.web.id/gambar/63-2.jpg" /></p>
<p align="left" class="textbody">Dengan demikian, objek grafis yang              diberi Anti-aliasing akan terlihat halus.</p>
<p align="left" class="textbody">Namun permasalahan dengan              dipergunakannya Anti-aliasing ini akan mempersulit pada grafis yang              memiliki latar transparan seperti pada seperti pada GIF. Untuk              mengatasinya, gunakan matte-background yang memiliki warna sama              dengan latar background. Bila Anda menggunakan PNG-24, masalah ini              dapat diselesaikan dengan mengaktifkan Alpha transparency, yang              dapat dipergunakan pada warna latar manapun. Namun sayangnya              Alpha-transparency ini tidak didukung oleh browser yang kini paling              banyak dipergunakan yaitu Internet Explorer. (<a href="mailto:pupungbp@master.web.id">Pupung Budi Purnama</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/antialiasing.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gradasi dan Diagonal</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/gradasi-dan-diagonal.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/gradasi-dan-diagonal.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jun 2006 11:38:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/gradasi-dan-diagonal.html</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan job untuk              mengkonversi dari sebuah desain yang telah dibuat oleh klien dalam              bentuk .psd (Format File Photoshop) menjadi dalam bentuk HTML.    [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan job untuk              mengkonversi dari sebuah desain yang telah dibuat oleh klien dalam              bentuk .psd (Format File Photoshop) menjadi dalam bentuk HTML.              Terlihat pekerjaan yang sederhana memang, namun ternyata tidaklah              sesederhana yang diperkirakan sebelumnya.<span id="more-84"></span></p>
<p class="textbody">Permasalahan yang saya hadapi adalah dari              layouting dari desain itu sendiri. Desain yang telah dibuat bisa              saya bilang &#8220;Web Unfriendly&#8221; karena setelah di konversi, desain              tersebut menghasilkan filesize dan layouting tabel yang rumit.</p>
<p class="textbody">Tidak hanya dipenuhi image dan icon-icon besar              yang tersebar di dalam desain yang dibuat, tapi ada hal lain yang              menarik perhatian saya, yaitu gradasi dan tataletak navigasi diagonal.</p>
<p class="textbody">Gradasi<br />
Desain yang dibuat memiliki latar dengan warna ungu gradasi              dengan warna mudanya. Gradasi warna yang diberikan adalah seperti pada              gambar dibawah (dalam ukuran 800&#215;600).</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="244" height="170" border="0" src="http://designworld.master.web.id/gambar/60-1.jpg" /></p>
<p align="left" class="textbody">Seperti pernah diulas pada artikel              sebelumnya, gradasi menyebabkan kompresi LZW pada GIF membuat banyak              pola, hingga bakcground ini bila disave dengan format GIF akan              menghasilkan filesize yang besar. Untuk hal ini, saya menggunakan              format JPEG dengan kualitas kompresi high (60).</p>
<p align="left" class="textbody">Alasan lainnya, background diatas              akan menyulitkan dalam pola (pattern) dari background akibatnya bila              ukuran resolusi melebihi ukuran desain yang dibuat maka pola              background akan terlihat tidak menyatu.</p>
<p class="textbody">Diagonal<br />
Hal lainnya adalah tataletak navigasi yang terbilang &#8220;tidak biasa&#8221;              yaitu menu-menu diletakan secara diagonal pada sisi kanan bawah,              hingga pada proses slicing, akan membuat tabel yang rumit. Tidak              hanya itu, image-image selain menu yang bertaburan sebagai penghias              dari halaman tersebut membuat saya berfikir ekstra untuk              menghasilkan hasil akhir yang optimal. Perhatikan hasil slicing yang              dipergunakan:</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="244" height="166" border="0" src="http://designworld.master.web.id/gambar/60-2.jpg" /></p>
<p align="left" class="textbody">Pada slicing diatas terpaksa &#8220;aturan              tabel&#8221; dilanggar (baca artikel tip slicing image) karena banyaknya              image dan teks yang tersebar pada halaman.</p>
<p align="left" class="textbody">Bagaimana Sebaiknya?<br />
Dalam menampilkan background, sebaiknya pergunakan background yang              memudahkan untuk di-pola (pattern) yang memiliki filesize yang kecil.              Bila harus menampilkan gradien, pergunakan gradien vertikal atau              horisontal agar dapat dibuat pola dengan mudah, kemudian Anda dapat              menggunakan CSS untuk mengatur tampilan dan letak dari background              tersebut.</p>
<p align="left" class="textbody">Dalam membuat merancang situs Web              pertimbangkan pula tataletak aturan tabel untuk mempermudah dalam              konversi kedalam HTML. (<a href="mailto:pupungbp@master.web.id">Pupung Budi Purnama</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/gradasi-dan-diagonal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompresi LZW pada GIF</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/kompresi-lzw-pada-gif.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/kompresi-lzw-pada-gif.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2004 10:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/kompresi-lzw-pada-gif.html</guid>
		<description><![CDATA[Setiap gambar yang kita pergunakan di Web memiliki format yang berbeda, sebut saja ada JPEG, PNG, dan GIF. Setiap format memiliki kompresi agar gambar yang ditampilkan tidak memiliki bytesize yang besar, tiap file menerapkan sistem kompresi yang berbeda pula. Kali ini, kita akan membahas mengenai kompresi pada GIF. Format GIF menggunakan kompresi alogaritma dari LZW [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap gambar yang kita pergunakan di Web memiliki format yang berbeda, sebut saja ada JPEG, PNG, dan GIF. Setiap format memiliki kompresi agar gambar yang ditampilkan tidak memiliki bytesize yang besar, tiap file menerapkan sistem kompresi yang berbeda pula. Kali ini, kita akan membahas mengenai kompresi pada GIF. <span id="more-73"></span>Format GIF menggunakan kompresi alogaritma dari LZW (Lempel &#8211; Zev &#8211; Welch) yang dimiliki oleh Unisys. Pemegang hak cipta GIF kini dipegang oleh CompuServe Incorporated. Awalnya GIF adalah format yang bebas royalti bagi semua pengguna namun tahun 1995, Unisys memutuskan untuk menarik royalti dari para vendor pengguna GIF.</p>
<p class="textbody">LZW adalah sistem kompresi yang menggunakan alogaritma, yang mengkompresi gambar dengan metode <em>lossless </em>, artinya tampilan gambar setelah kompresi akan sama dengan sesudah kompresi, tentu saja bila file yang dikompresi memenuhi standar GIF (256 warna), bila tidak, GIF akan menkonversinya menjadi standar GIF.</p>
<p class="textbody">Kompresi LZW, akan membaca terlebih dahulu penggunaan warna dan tekstur yang sama dalam sebuah baris horisontal, yang digunakan secara berulang-ulang atau sama. Setelah itu LZW akan memperbarui gambar tersebut dengan mengambil index elemen gambar yang sering diulang tersebut, kemudian menampilkan kembali index dari elemen- elemen yang sama tersebut. Penggunaan elemen yang sama ini akan menghemat penggunaan kompresi, karena kompresi LZW akan lebih sedikit memerlukan data untuk mengkompresi elemen gambar.</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="347" height="209" src="http://designworld.master.web.id/gambar/51-1.gif" /></p>
<p class="textbody">Sebagai contoh, perhatikan gambar dibawah:</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="92" height="84" src="http://designworld.master.web.id/gambar/51-2.gif" /></p>
<p align="left" class="textbody">Gambar diatas memiliki filesizy sekitar 1Kb (965 byte), kemudian putar gambar tersebut menjadi seperti gambar dibawah:</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="82" height="96" src="http://designworld.master.web.id/gambar/51-3.gif" /></p>
<p align="left" class="textbody">Maka besar file setelah diputar adalah 1,3Kb. Gambar vertikal lebih kompleks pada baris horisontal, akibatnya kompresi LZW memerlukan data yang lebih banyak untuk menampilkan gambar yang akurat.</p>
<p align="left" class="textbody">Pada kasus lain, misalnya pada warna yang memiliki gradien, maka file akan lebih besar dari pada gambar dengan pola atau pattern.</p>
<p align="center" class="textbody"><img width="100" height="100" src="http://designworld.master.web.id/gambar/51-4.gif" />              <img src="http://designworld.master.web.id/gambar/51-5.gif" /></p>
<p class="textbody">Pada gambar sebelah kiri, komposisinya tidak sekompleks gambar yang di kanan. Pada gambar disebelah kanan, komposisi warna sangat banyak, hingga besar file meningkat drastis. (<a href="mailto:pupungbp@master.web.id">Pupung Budi Purnama</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/kompresi-lzw-pada-gif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indexed Images pada GIF</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/indexed-images-pada-gif.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/indexed-images-pada-gif.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2004 11:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/indexed-images-pada-gif.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada editor gambar, kita sering mendengar istilah Indexed Images. Apakah Indexed image itu? Indexed Images adalah gambar yang memiliki komposisi warna yang tidak lebih dari 256 warna, pada software pengolah image, warna-warna gambar Indexed Images biasanya ditampilkan dalam pallete. Dalam pallete tersebut kita bisa menambahkan atau mengurangi warna-warna pada indexed images.
Terdapat beberapa tipe dari sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada editor gambar, kita sering mendengar istilah Indexed Images. Apakah Indexed image itu? Indexed Images adalah gambar yang memiliki komposisi warna yang tidak lebih dari 256 warna, pada software pengolah image, warna-warna gambar Indexed Images biasanya ditampilkan dalam pallete. <span id="more-72"></span>Dalam pallete tersebut kita bisa menambahkan atau mengurangi warna-warna pada indexed images.</p>
<p class="textbody">Terdapat beberapa tipe dari sistem penampakan dan penyusunan warna pada indexed palletes, diantaranya adalah adaptive, system, exact, and web.</p>
<p class="textbody"><strong class="textbody">Adaptive: </strong> Adaptive, disebut juga optimized, adalah sistem penyusunan warna dengan cara meresampling gambar, mengacu kepada warna yang paling banyak digunakan oleh gambar tersebut. Contohnya, bila sebuah gambar disusun lebih banyak oleh hijau dan biru, maka, index akan me <em>resampling </em> warna lain mengacu kepada warna yang paling banyak dalam gambar tersebut, hasilnya, gambar tersebut akan lebih banyak mengandung warna antara hujau dan biru. Bila dalam gambar tersebut memiliki warna lain dengan jumlah yang lebih sedikit maka warna yang sedikit itu akan hilang.</p>
<p class="textbody"><strong>System: </strong> disebut juga Uniform, yaitu penggunaan warna 8 Bit berdasarkan platform yang anda gunakan. Pilihan ini dapat mengubah gambar image anda dengan sangat kasar, akibatnya kualitas menjadi menurun drastis dan besar file meningkat.</p>
<p class="textbody"><strong>Exact: </strong> Bila dalam index terdapat 216 warna, maka jumlah warna tersebut yang akan disimpan. Pada beberapa software Image Editing, pilihan exact akan tersedia bila jumlah warna pada gambar kurang dari 256, bila lebih dari itu, pilihan exact tidak akan tersedia.</p>
<p class="textbody"><strong>Web/Browser: </strong> Index warna yang digunakan berdasarkan kepada susunan warna RGB yang digunakan oleh browser, jumlah warna dari RGB ini adalah 216 warna.</p>
<p class="textbody">Setiap sistim Indeks pallete memiliki kelebihan dan kekurangannya, pastikan Anda mengenal karakteristik format image dan keperluan warna untuk dapat menyesuaikan agar hasil yang diperoleh maksimal. (<a href="mailto:pupungbp@master.web.id">Pupung Budi Purnama</a>)</p>
<p class="textbody"><em>*gambar dan sumber dari Lynch, Patrick; Web Style Guide 2002.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/indexed-images-pada-gif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Mendesain Sebuah Logo</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/tips-mendesain-sebuah-logo.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/tips-mendesain-sebuah-logo.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2004 00:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/tips-mendesain-sebuah-logo.html</guid>
		<description><![CDATA[Sering kita lihat, baik pada billboard-billboard yang dipajang di jalan raya, ataupun cop surat , atau juga kartu nama, mungkin juga buku, dan masih banyak lagi, sebuah gambar atau symbol yang di kenal dengan istilah &#8220;logo&#8221; . Mungkin bagi khalayak awam logo tak jauh beda dengan bentuk atau gambar yang berwarna-warni yang menjadi icon sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kita lihat, baik pada billboard-billboard yang dipajang di jalan raya, ataupun cop surat , atau juga kartu nama, mungkin juga buku, dan masih banyak lagi, sebuah gambar atau symbol yang di kenal dengan istilah &#8220;logo&#8221; <span id="more-54"></span>. Mungkin bagi khalayak awam logo tak jauh beda dengan bentuk atau gambar yang berwarna-warni yang menjadi icon sebuah corporate, bentuk usaha, ataupun sebuah produk. Sebenarnya dibalik logo ada banyak unsur yang menyusunnya menjadi sebuah bentuk yang bisa dilihat dan bisa dinikmati seperti itu. Logo merupakan icon yang mewakili sesuatu, yang mampu menjelaskan secara singkat ke khalayak ( <em>penikmat </em>) serta mampu menanamkan brand image ke dalam memory otak dengan mudah ( <em>mar-king </em>).             <span class="textbody">Di dalam Logo sendiri ada misi yang diemban untuk sampai ke khalayak, meliputi :</span></p>
<p><span class="textbody"><br />
</span><span class="heading">1. Mark-Ing </span><span class="textbody"><br />
Sebuah desain logo bisa menjadi mark-ing (mudah diingat), jika ada sebuah bentuk yang diinterpretasikan. Dan untuk melakukan interpretasi ini biasanya seorang desainer menggunakan ?teori analog? untuk mewakili bentuk yang dimaksud. Bentuk yang dimaksud biasanya diambil dari nama sesuatu objek (corporate atau produk) yang dibuat logonya. </span></p>
<p class="textbody"><em>Semisal logo corporate ?Redshoe?, maka istilah shoe di sini yang dijadikan sebagai aksentuasi (titik focus)<br />
diwakilkan dengan bentuk sepatu wanita. Dan dominasi logo bisa menggunakan symbol ini. </em></p>
<p align="center" class="textbody"><strong><br />
</strong></p>
<p class="textbody"><span class="heading">2. Eye-Catching </span><br />
Sebuah desain logo akan memiliki nilai lebih jika memiliki unsur eye-catching. Dari sekian banyak gambar yang dipajang, baik di outlet, toko buku, atau tumpukan kartu nama, apakah logo tersebut mampu menarik perhatian lebih dominan dibanding gambar atau bentuk yang lain?</p>
<p>Untuk mampu membuat sebuah desain logo yang eye-catching memang tidak mudah. Ada beberapa hal yang musti dipertimbangkan. Mulai target pasar, karakteristik audience yang dituju, atau media yang akan dipakai, dan sebagainya. Tetapi hal ini bisa dipelajari, dan membutuhkan jam terbang yang tinggi.</p>
<p>Salah satu dari unsur di atas yang membuat sebuah desain memiliki eye-catching adalah <span class="textbody">konsep bentuk yang unik. Selain bentuk yang mark-ing bentuk yang unik juga menjadi salah satu syarat sebuah desain logo mampu menyita perhatian audience. Ada banyak symbol yang bisa dipakai untuk menginterpretasikan sebuah objek, tetapi dari beberapa pilihan alternatif sebenarnya ada salah satu atau salah dua yang lebih eye-catching. Dari bentuk dasar sebuah desain logo sebenarnya bisa ditambahkan cosmetic ( <em>meminjam istilah fashion </em>) atau ornamen pendukung, berupa bentuk yang sifatnya sebagai pemanis. Selain itu karena sifatnya cosmetic di sini hanya sebagai pemanis, maka kekuatannya tidak begitu dominan. Bentuk yang dipilih sebagai cosmetic bisa berupa bentuk bulat, persegi, kotak, segitiga, atau sekedar garis lengkung. </span></p>
<p class="textbody"><em>Semisal logo corporate ?Redshoe? di atas, dari bentuk dasar sebuah objek image ?sepatu? kita bisa mengolah bentuk dasar tersebut menjadi beberapa pilihan, disesuaikan bagian mana yang ingin di tonjolkan. Atau dengan menambahkan ornament bentuk sebagai cosmeticnya. </em></p>
<p align="left" class="textbody"><span class="heading">3. Trend<br />
</span></p>
<div align="left"><span class="textbody">Perkembangan logo sedikit banyaknya dipengaruhi oleh trend, seperti layaknya trend di dalam dunia fashion. Trend di sini mewakili apresiasi dinamika dari bentuk logo itu sendiri. Seperti kita ketahui di awal tahun 2000, trend untuk logo yang berkembang adalah bentuk</span><br />
<span class="textbody" /></div>
<p align="left" class="textbody"><span class="textbody"> digital, dimana bentuknya disini lebih banyak diwakili oleh garis dan dot (titik). Hal ini mengacu pada era IT yang berkembang pesat di awal tahun tersebut. Dimana banyak bentuk-bentuk yang mewakili dunia IT menjadi trade mark logo-logo yang lahir pada masa itu. Mulai dari bentuk font sampai konsep efek matrix berpengaruh besar pada proses kelahiran logo-logo.</span></p>
<p>Trend sebenarnya identik dengan wabah influenza yang menyebar tanpa bisa diketahui asal muasalnya. Saling mempengaruhi dan memiliki masa incubasi. Kadang sifatnya ?circular? atau berulang, dimana konsep lama kembali menjadi trend baru. Banyak faktor yang menyebabkan adanya trend ini, yang semuanya berasal dari external. Bisa karena gejala yang terjadi di sekitar kita, seperti fashion, TV, system, politik, dsb.</p>
<p>Di era tahun 70-an, desain lebih banyak menggunakan bentuk detail untuk menginterpretasikan suatu objek. Desain logo yang ada banyak menggunakan ilustrasi yang sifatnya detil (mendekati aslinya). Mungkin tepatnya aliran naturalis, begitu mempengaruhi konsep desain logo-logo yang lahir pada masa itu. Kemudian pada era tahun 90-an, konsep desain logo berubah ke arah yang lebih simple. Bentuk objek yang detil tidak lagi digunakan untuk menginterpretasikan sebuah logo. Desain yang ada lebih<br />
cenderung minimalis. Dan pada era tahun 2000 perkembangan berubah lebih kompleks lagi selain bentuk juga coloring (tata warna) menjadi sangat minimalis di sini. Warna?warna yang dipakai dalam logo-logo yang lahir di era ini cenderung menggunakan warna-warna<br />
?solid color? dan berkesan minimalis, selain bentuk garis dan dot. Mungkin istilah yang lebih pas untuk ini adalah ?era-Clipart?.</p>
<p align="center" class="textbody"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center" class="textbody"><em>Logo dengan konsep bentuk detil Logo dengan konsep bentuk simple </em></p>
<p class="textbody">Dalam menyikapi trend, ada hal yang bisa dipakai sebagai acuan dalam merancang sebuah desain, apakah sebagai ?pengikut trend? ataukah sebagai ?pencipta trend?, atau malah kita tetap solid pada atmosphere khas desain kita. Semua terserah para desainer memposisikan desainnya. Yang pasti trend adalah salah satu bentuk apresiasi dinamika sebuah perkembangan. Selama kita melihatnya sebagai hal yang positif maka kita akan memiliki nilai tambah wawasan dan ide yang lebih luas. Begitu juga sebaliknya, jika kita<br />
melihatnya sebagai penghambat maka kita tidak akan bisa menerima kekurangan desain kita secara lebih proposional.</p>
<p class="textbody"><strong>Penulis:</strong><em><br />
</em><a href="mailto:yudi@visiweb.co.id"><strong>Yudi Widsman Drahta</strong></a>. seorang pekerja IT  dan pengajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/tips-mendesain-sebuah-logo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Resampling Pada Gambar</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/teknik-resampling-pada-gambar.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/teknik-resampling-pada-gambar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2004 23:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/teknik-resampling-pada-gambar.html</guid>
		<description><![CDATA[Banyak diantara rekan kerja saya yang  mengeluh jika mendapati gambar yang &#8220;pecah&#8221; setelah mengubah ukuran menjadi lebih besar. Sebagaimana kita tahu, bahwa pada pada sebuah gambar digital dengan tipe raster atau bitmap disusun oleh kotak-kotak kecil yang biasa kita sebut dengan pixel. Pada artikel ini, kita akan mengenal metode resizing pada sebuah gambar yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak diantara rekan kerja saya yang  mengeluh jika mendapati gambar yang &#8220;pecah&#8221; setelah mengubah ukuran menjadi lebih besar. Sebagaimana kita tahu, bahwa pada pada sebuah gambar digital dengan tipe raster atau bitmap disusun oleh kotak-kotak kecil yang biasa kita sebut dengan pixel. <span id="more-45"></span>Pada artikel ini, kita akan mengenal metode resizing pada sebuah gambar yang dilakukan oleh software-software pengolah gambar yang sering kita gunakan.</p>
<p class="textbody">Dikarenakan pixel terkait dengan resolusi (baca artikel sebelumnya mengenai <strong> Resulosi Gambar dan Monitor</strong>), pengecilan dan pembesaran ukuran gambar dengan software tertentu seperti Photoshop atau Fireworks, akan berpengaruh pada kualitas gambar itu sendiri. Pengecilan gambar menyebabkan meningkatnya jumlah ppi pada suatu gambar (ingat, perubahan resolusi gambar, tidak terkait dengan resolusi monitor). Mengecilkan gambar, mungkin tidak akan terlihat penurunan kualitas gambar, selain dimensi/ukuran image mengecil dan bila gambar hasil pengecilan ini dicetak, kualitasnya akan lebih baik.</p>
<p class="textbody">Bila anda melakukan pembesaran (dengan zoom tool) atau <em>resizing </em> gambar, gambar akan terlihat seperti kotak-kotak, resolusi yang menyusun gambar tersebut <strong>menjadi lebih kecil </strong>dikarenakan resizing atau zooming tersebut hanya memperbesar ukuran tampil dari pixel. Hasil dari resizing ini, tentu sangat tidak diharapkan, gambar akan terlihat lebih kasar.</p>
<p class="textbody">Pada software aplikasi pengolah grafis seperti Photoshop, Fireworks, Paintshop Pro, atau Gimp pada Linux, hal tersebut dapat diperbaiki menggunakan metode <strong><em>resampling </em></strong>. <strong><em>Resampling </em></strong>adalah pembuatan pixel baru untuk memperbaiki gambar akibat resizing, hingga tampilan gambar menjadi lebih baik.</p>
<p class="textbody">Menggunakan metode resampling, program aplikasi pengolah gambar akan menambahkan pixel-pixel baru diantara pixel yang diresize, Secara matematis program akan memperkirakan warna dan pixel baru untuk ditambahkan diantara warna pixel-pixel yang berada didekatnya. Prosesnya disebut <strong><em>interpolation. </em></strong> Pembesaran gambar dengan cara ini sebenarnya tidak mengubah resolusi dari gambar.</p>
<p class="textbody">Metode dari resampling ini ada beberapa, tapi yang sering kita kenal adalah: <strong>Billinear </strong> dan <strong>Bicubic </strong>.</p>
<p class="textbody"><strong>Billinear: </strong>Pada pembuatan pixel baru, metode ini mengacu pada 4 pixel yang berada di dekatnya, di bagian atas, bawah, kiri, dan kanan. Dari keempat warna pixel tersebut kemudian ditentukan pixel baru dengan warna yang merupakan warna campuran dari keempat pixel. Metode Billinear juga menggunakan antialias untuk menghindarkan penajaman pada sisi-sisi objek atau gambar. Hal tersebut akan mengakibatkan gambar akan bersifat soft atau sedikit blur.</p>
<p align="center" class="textbody">
<p class="textbody"><strong>Bicubic: </strong> Prinsip kerja dari bicubic pada dasarnya sama dengan Billinear namun metode resampling yang digunakan mengacu pada 8 pixel yang terdapat disekitar pixel yang akan dibuat, pixel pixel tersebut adalah pixel yang digunakan pada billinear ditambah pixel-pixel diagonal pada pixel yang akan dibuat.</p>
<p class="textbody">Tidak ada petunjuk baku mengenai penggunaan kedua metode ini, namun menurut user manual dari Paint Shop Pro gunakan Billinear untuk memperkecil gambar, kemudian Bicubic untuk memperbesar gambar. Tentunya Anda dapat bereksperimen dengan kedua metode ini, dan pilihlah metode yang menurut Anda lebih baik.</p>
<p class="textbody">Disamping itu terdapat metode lain, namun metode tersebut tidak termasuk menggunakan metode interportion, diantaranya adalah:</p>
<p class="textbody"><strong>Nearest Neighbor </strong>: Sebenarnya resampling ini tidak menggunakan metode interpolation, tapi lebih pada penggunaan banyaknya warna tertentu pada suatu gambar.</p>
<p class="textbody"><strong>Pixel Resize </strong>: Metode ini sama hasilnya seperti Anda memperbesar gambar dengan Zoom tool.</p>
<p class="textbody">Nah, Mudah-mudahan dengan membaca artikel diatas Anda akan lebih mengetahui tentang teknik interpolasi pada suatu gambar yang di-resize. (<a href="mailto:pupungbp@erastica.com">Pupung Budi Purnama</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/teknik-resampling-pada-gambar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menggunakan Garis</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/tips-menggunakan-garis.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/tips-menggunakan-garis.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2004 16:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/tips-menggunakan-garis.html</guid>
		<description><![CDATA[Elemen garis sering dipergunakan sebagai hiasan                untuk mempercantik sebuah situs Web. Tahukah Anda, walaupun &#8220;hanya&#8221;                garis, ternyata ia dapat memberikan nilai lebih pada desain Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Elemen garis sering dipergunakan sebagai hiasan                untuk mempercantik sebuah situs Web. Tahukah Anda, walaupun &#8220;hanya&#8221;                garis, ternyata ia dapat memberikan nilai lebih pada desain Anda                selain sebuah &#8220;coretan lurus&#8221; biasa. Penggunaan garis                yang cocok dan sesuai akan menambah citarasa desain yang Anda buat.                Pada Artikel ini, kita akan membahas fungsi garis dan bagaimana                menggunakan garis pada sebuah desain.<span id="more-41"></span></p>
<p class="textbody">Fungsi utama kita meletakan sebuah garis pada                sebuah desain Web adalah sebagai pemberi batas. Garis sering dipergunakan                sebagai pemisah konten satu dengan yang lainnya. Misalnya, antara                kolom kiri dengan tengah, menu dengan body, dan lain-lain.</p>
<p class="textbody">Fungsi kedua adalah penegas dari batasan yang                telah ada, misalnya sebuah kolom telah diberi warna untuk dapat                dibedakan dengan kolom lain, kemudian garis dipergunakan pada kolom                tersebut agar terlihat lebih berbeda dengan kolom lain.</p>
<p class="textbody">Fungsi ketiga adalah sebagai hiasan atau dekorasi                saja. Fungsi garis untuk dekorasi ini biasanya banyak dipergunakan                sebagai variasi terhadap huruf atau gambar. Selain ketiga fungsi                diatas, perpaduan garis yang serasi juga dapat menjadikan desain                Anda &#8220;Clean&#8221;, rapi, dan elegan.</p>
<p><strong>Berikan jarak yang cukup antara garis dengan konten<br />
</strong>Hal ini bertujuan untuk memberikan daerah kosong atau whitespace                agar tampilan situs Anda tampak &#8220;menyenangkan&#8221; dan lebih                rapi. Anda dapat membaca artikel mengenai whitespace untuk lebih                memahami tentang pengaturan jarak ini.</p>
<p class="textbody"><strong>Berikan garis warna yang lebih muda dari                konten (teks)<br />
</strong>Warna antara elemen garis dan teks sebaiknya dibedakan.                Sebab, warna yang lebih kuat biasanya lebih diperhatikan dari pada                warna pudar. Berikan warna kuat pada teks, sedangkan warna pudar                untuk garis.</p>
<p class="textbody"><strong>Jangan menggunakan garis diantara garis</strong><br />
Jangan gunakan garis diantara garis, hal ini akan mengakibatkan                situs Anda terkesan penuh dan sesak. Penggunaan garis yang berlebihan                malah membuat desain tidak sedap dipandang dan membingungkan.</p>
<p align="left" class="textbody">Itulah beberapa tips mengenai penggunaan                garis, seperti pepatah mengatakan &#8220;pergunakan garis dengan bijak&#8221;. Semoga bermanfaat bagi Anda. ( <a href="mailto:pupungbp@erastica.com">Pupung                Budi Purnama</a> )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/tips-menggunakan-garis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Sih Image?</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/untuk-apa-sih-image.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/untuk-apa-sih-image.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2004 09:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/untuk-apa-sih-image.html</guid>
		<description><![CDATA[Image, grafis, atau gambar adalah biang keladi               &#8220;kembung&#8221;nya sebuah halaman Web dalam ukuran file. Untuk               apa sih nampilin image? Jelas-jelas media Web bukanlah     [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Image, grafis, atau gambar adalah biang keladi               &#8220;kembung&#8221;nya sebuah halaman Web dalam ukuran file. Untuk               apa <em>sih nampilin</em> image? Jelas-jelas media Web bukanlah               media cetak dimana desainernya tidak usah menghiraukan ukuran file               dan bebas berkreasi dengan image dan tipe-tipe yang &#8220;aneh&#8221;.               Ingatlah, bahwa misi utama dari Web itu adalah penyebaran informasi,               bukannya keindahan grafis yang mempersulit audien untuk memperoleh               sesuatu yang ia cari di sebuah situs Web<span id="more-32"></span>.</p>
<p>Pernyataan diatas, tentu bikin &#8220;perih&#8221;               mata para desainer yang membacanya. Pernyataan diatas ada benarnya               juga, tapi tidak sepenuhnya benar. Pada beberapa buku yang ditulis               oleh praktisi desain mereka sangat menekankan mengenai penggunaan               image pada sebuah halaman Web. Pada artikel ini, kita akan berbincang               mengenai kegunaan image pada sebuah halaman Web. Image dalam artikel               ini bukan image yang diperuntukan sebagai ilustrasi dalam sebuah               teks (Mis. Foto dari sebuah berita), tapi image sebagai dekorasi               atau hiasan, seperti image yang terdapat pada bagian atas/header               Design World.</p>
<p><strong><span class="heading">Image sebagai pengenal</span></strong><br />
Sejak kita kecil, bahkan ketika kita belum bisa membaca huruf, gambar               adalah salah satu yang dapat kita &#8220;baca&#8221;. Kita mengenal               hewan-hewan buas seperti harimau dan beruang melalui gambar-gambar               yang diperkenalkan oleh orang tua kita. Begitu pula dengan Web.               Pada sebuah halaman Web, gambar dapat menjadi ciri dari sebuah situs.               Gambar sebuah perusahaan penyedia jasa internet tentu berbeda dengan               situs penyedia jasa keuangan. Gambar inilah yang akan memperkenalkan               sebuah situs kepada pengunjung walaupun ia tidak membaca teks yang               ada pada halaman Web tersebut.</p>
<p><strong><span class="heading">Image sebagai penarik perhatian</span></strong><br />
Bila kita berjalan-jalan di pertokoan, kita mudah tertarik dengan               iklan-iklan dengan gambar yang menarik. Karena penyajian gambar               yang menarik, bahkan kita jadi membaca teks (padahal sebelumnya               malas) yang menyertai gambar tersebut yang biasanya memiliki porsi               yang lebih kecil dari gambar. Fungsi inilah yang selalu diusung               untuk menampilkan image pada sebuah halaman Web yaitu penarik perhatian               atau eye catcher. Ada 3 faktor yang dapat menarik pengunjung dengan               grafis yang ditampilkan di Web yaitu; warna, objek, dan tataletak.<span class="heading" /></p>
<p><strong><span class="heading">Image sebagai penyampai pesan</span></strong><br />
Sebuah perusahaan asuransi, pada halaman Webnya memajang gambar               sebuah keluarga yang bahagia sedang bertamasya di pegunungan. Anda               tentu sudah dapat mengambil maksud dari gambar tersebut, bahwa dengan               menggunakan layanan asuransi, maka Anda dan keluarga menjadi lebih               tenang dan bahagia, tidak usah menghawatirkan hal-hal lain karena               telah diasuransikan. Gambar yang ditampilkan sebagai penyampai pesan               ini, akan sangat mudah dicerna oleh pengunjung dari pada mendeskripsikannya               dengan kata-kata.Itulah kegunaan image secara umum yang biasa kita               pergunakan pada sebuah halaman Web. Bila image dalam sebuah Web               dapat mewakili dari ketiga fungsi diatas, bisa jadi gambar yang               Anda tampilkan di halaman Web akan lebih bermakna dan &#8220;mengena&#8221;               bagi para audiens situs Anda. Ada pepatah lama mengatakan &#8220;Gambar               melukiskan beribu kata&#8221;. ( <a href="mailto:pupungbp@erastica.com">Pupung               Budi Purnama</a> )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/untuk-apa-sih-image.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Bit Depth?</title>
		<link>http://www.designmagz.com/grafis/apa-itu-bit-depth.html</link>
		<comments>http://www.designmagz.com/grafis/apa-itu-bit-depth.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2004 08:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pupung Budi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grafis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.designmagz.com/uncategorized/apa-itu-bit-depth.html</guid>
		<description><![CDATA[Istilah &#8220;Bit Depth&#8221; bagi Anda yang sering berhubungan    dengan grafis komputer tentu sudah tak asing lagi, atau minimal               Anda pernah mendengar bahkan mengucapkan istilah diatas bila bercakap-cakap            [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah &#8220;Bit Depth&#8221; bagi Anda yang sering berhubungan    dengan grafis komputer tentu sudah tak asing lagi, atau minimal               Anda pernah mendengar bahkan mengucapkan istilah diatas bila bercakap-cakap               dengan rekan kerja tentang kartu grafis, layar monitor, atau format               file gambar. Pada artikel ini kita akan mengenal lebih dalam dengan               apa itu &#8220;Bit Depth&#8221;. <span id="more-29"></span><span class="heading" /></p>
<p><strong><span class="heading">Ya dan Tidak</span></strong><br />
Bit adalah unit terkecil dari informasi yang               dapat dimengerti oleh komputer. Bit menyatakan 2 keadaan; &#8220;Ya&#8221; dan &#8220;Tidak&#8221; (dalam istilah lain Positif/negatif, atau dalam notasi 0/1). Informasi-informasi               dalam komputer ditangani dengan cara menerangkan sesuatu dengan               &#8220;Ya&#8221; atau &#8220;Tidak&#8221;, termasuk layar monitor. Layar               monitor disusun oleh kotak-kotak kecil (pixel/cell) yang berisi informasi/bit yang menentukan warna apa yang akan ditampilkan.Untuk memahami bit, kita ambil contoh sebuah layar monitor hitam-putih (1 bit),               bila pixel menyatakan &#8220;Ya&#8221; maka sebuah kotak akan berwarna               putih, bila pixel menyatakan &#8220;Tidak&#8221; maka kotak tersebut               akan berwarna hitam.</p>
<p>Pada pixel yang mampu menampilkan 2 bit warna,               berarti ada 2 pernyataan &#8220;Ya&#8221; dan 2 pernyataan &#8220;Tidak&#8221;,               maka jumlah warna yang dapat ditampilkan 2 bit x 2 pernyataan = 4 warna. Pixel               yang mampu menampilkan 3 bit berarti 2 x 2 x 2 = 8 warna, 4 bit               berarti 2 x 2 x 2 x 2 = 2<sup>4</sup>= 16 warna dan seterusnya.Jadi dapat disimpulkan bahwa <strong>bit depth</strong> adalah kemampuan pixel dalam menyimpan bit atau informasi, dalam hal ini akan berpengaruh terhadap banyaknya warna yang dapat ditampilkan.</p>
<p><strong><span class="heading">Bit dan Format File</span></strong><br />
Setiap format file gambar yang kita pergunakan di Web memiliki kemampuan               menyimpan warna yang berbeda. Sebagaimana kita tahu, format gambar               yang umum dipergunakan di Web adalah GIF, JPEG, dan PNG.              GIF dapat menampilkan warna 8 Bit (256 warna), JPEG menampilkan               warna hingga 24 Bit atau lebih dari 16 juta warna, dan PNG dapat               menampilkan warna hingga 32 Bit.</p>
<p>Walaupun demikian, berapapun banyaknya warna yang               Anda pergunakan dalam gambar, tampilan Akhir tetap ditentukan oleh               kemampuar layar komputer menampilkan warna.(<a href="mailto:pupungbp@erastica.com">Pupung               Budi Purnama</a>).<strong /></p>
<p><strong>*</strong> <strong>Gambar diambil dari               </strong>: Buku: Lynch, Patrick J. , Sarah Horton, Web Style Guide: Basic Design Principles for Creating Web Sites, 2002..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.designmagz.com/grafis/apa-itu-bit-depth.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
