Inspirasi dalam Desain

Kita sebagai “seniman” IT mungkin tidak jauh berbeda dengan seniman lain seperti Musisi, Pelukis, Penyair, Arsitek, dan desainer lainnya. Seorang seniman memerlukan karya seni orang lain atau hal lain yang terlintas di pikirannya untuk membuat sebuah karya seni yang ia hasilkan. Misalnya, seorang musisi menghasilkan sebuah lagu karena ia terinspirasi dari karya musik seorang musisi lain yang ia gemari. Akibatnya lagu yang ia hasilkan memiliki nuansa musisi yang ia anut.

Sebuah tulisan dari Roland Barthez (1977) menyatakan bahwa Tidak ada karya manusia yang benar-benar asli, tiap karya akan selalu berulang. Yang ada adalah pencampuran dan penggabungan dari karya-karya yang telah ada.

Dalam dunia desain Web yang penuh keterbatasan, karya-karya yang ada memang memiliki banyak persamaan. Warna, tata-letak, tipografi, dan navigasi satu sama lain banyak memiliki kesamaan dikarenakan keterbatasan tersebut. Desain yang kita lihat di jajaran situs Web terbaik MWI atau di Coolhomepages banyak yang memiliki kesamaan, kata-kata yang keluar dari mulut kita tatkala melihat sebuah karya orang lain kadang seperti ini “Ooh… Navigasinya mirip situs anu…”, “Ooh… Warnanya mirip situs anu ya…”.

Kalau semua karya berasal dari karya yang telah ada, dan kita hanya bisa meniru dari karya terserbut, lalu bagaimana kita dapat mengklaim kalau desain yang kita buat adalah milik kita? Karya-karya yang ada akan diinterpretasikan lain oleh masing-masing orang, dari sebuah karya yang diinspirasi, mungkin akan menghasilkan berjuta-juta karya baru yang lebih indah dan lebih baik. Karya-karya baru itu adalah hasil pemikiran dan jerih payah kita, maka itu lah karya kita.

Setiap karya seni memiliki aturan-aturan, seni musik memiliki nada dari Do, Re, Mi, Fa,… dan seterusnya. Walaupun musik memiliki nada dan oktaf yang sama, namun sampai saat ini karya yang dihasilkan musisi di seluruh dunia berbeda-beda, menakjubkan bukan?

Saling “menginspirasi” ini memang biasa terjadi, namun ada batasannya. Kalau tidak, Anda akan dituduh sebagai plagiat, kalau demikian bukan inspirasi lagi namanya, tapi “inspiracy”. ( Pupung Budi Purnama )

Leave a Reply