Mengenal Aksesibilitas Web

Dalam publikas-publikasi W3C (World Wide Web Consortium) yang pernah saya baca, ada salah satu artikel yang kurang lebih berpesan seperti ini: “Tujuan utama Web adalah informasi,? dan harus dapat diakses oleh seluas-luasnya pengguna”. Pertanyaan yang akan muncul pada bagian kalimat “Diakses oleh seluas-luasnya pengguna” Siapa sajakah pengguna itu? Seperti kita tahu, bila setiap orang bebas dan berhak untuk memperoleh informasi baik itu dalam televisi, surat kabar, radio, dan tentu saja Web. Namun sayang, banyaknya media yang menawarkan informasi tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan oleh setiap orang, contohnya, orang yang cacat pendengaran tidak dapat menikmati radio dan orang yang buta tidak dapat menikmati televisi.

Mengacu pada keadaan diatas, dalam dunia Web munculah istilah Aksesibilitas.? Aksesibilitas memungkinkan setiap orang dapat menikmati informasi yang Ada dalam sebuah situs tak terkecuali bagi orang-orang cacat. Oleh karena itu, dalam pembangunan sebuah situs Web kita tidak dapat gegabah agar hasil yang diperoleh lebih maksimal dan dapat “dinikmati” dalam berbagai keadaan audiens.

Keterbatasan penglihatan
Pengguna? yang mempunyai keterbatasan penglihatan dapat berarti orang yang setengah buta (penglihatan kurang jelas, buta warna) sampai pada buta secara total.
Pada orang-orang buta secara partial, kesulitan utama terletak pada ukuran teks atau hal lain hingga ia tidak dapat membaca halaman Web. Hal ini dapat diatasi dengan pengaturan ukuran huruf pada browser. Pada orang-orang buta warna, penggunaan warna-warna yang rentan lebih baik dihindarkan, beri warna kontras pada konten dan background. Pada orang-orang buta secara total, sebuah halaman Web harus dapat diakses dengan baik menggunaan Screen Reader atau Speech Browser.

Keterbatasan pendengaran
Pada orang-orang yang memiliki keterbatasan pendengaran, tentu saja ia tidak dapat menikmati sebuah situs Web yang memiliki bunyi yaitu situs yang menyampaikan informasi dalam suara. Alternatifnya adalah menggunakan opsi teks agar orang dengan keterbatasan penengaran dapat memperoleh informasi.

Orang Cacat lainnya
Orang-orang dengan keterbatasan kemampuan fisik seperti tidak dapat mengetik atau menggunakan mouse karena bentuk tangan yang tidak sempurna. Atau pengguna yang memiliki epilepsi, yang rentan terhadap getaran visual antara 2-50Hz.

Keterbatasan Infra-struktur dan lingkungan
Infra struktur yang terbatas seperti penggunaan akses internet yang lambat, lingkungan yang bising, spesifikasi komputer, penggunaan browser dan hal lain yang dapat mempengaruhi akses seseorang.

Penggunaan Teknologi Baru dan Lama
Munculnya teknologi-teknologi baru di Teknologi Informasi membuat sebuah situs Web harus dapat pula diakses melalui teknologi tersebut. seperti penggunaan browser XHTML di PDA, ponsel,, atau juga teknologi yang lawas seperti penggunaan browser teks atau mozic browser.

Membaca paparan diatas, maka akan terbayang tugas berat dalam membangun desain pada sebuah situs Web. Menjadi sempurna memang sulit (tidak mungkin?) karena dalam mencapai satu tujuan dalam desain Web terkadang harus mengesampingkan hal lain, misalnya bila situs Anda ingin lebih accessible, jangan menggunakan Flash untuk bagian-bagian yang penting seperti menu misalnya. Untuk lebih mendekati ke aksesibilitas, sebaiknya mengacu kepada W3C, berarti, Desainer Web harus mulai putar otak dan banyak mempertimbangkan banyak hal dalam mendesain sebuah halaman Web. (pupung budi purnama)

Leave a Reply